Rabu, 21 Desember 2016

ALY BAHALWAN PENDIRI DAN PENCIPTA LOGO ASSYABAAB

Oleh : Washil Bahalwan




Penulis adalah adik Aly Bahalwan (Paman Rusdy Bahalwan).



Sumber foto : Instagram (@pemerhatisejarahpersebaya_)
Tampak Rusdy Bahalwan mengangkat Piala Kompetisi Perserikatan 1977, sedang disampingnya adalah Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin bersiap mengkalungkan medali juara.

BAGIAN PERTAMA

Pada tulisan terdahulu pernah disampaikan oleh penulis, bahwasanya olah raga paling digemari oleh anak-anak jama’ah (laki-laki) adalah sepak bola. Bahkan bagi mereka yang hobi sekali sepak bola, ketika sakit dan ada temannya yang memanggil untuk mengajak bermain sepak bola, maka anak tersebut seketika sembuh dan berangkat bermain sepak bola, walaupun orang tuanya melarang. Di kalangan anak-anak jama’ah (laki-laki), sepak bola mempunyai magnet yang luar biasa.


Aly Bahalwan (kiri) dan Zein bin Agil (kanan, berpeci hitam). 
Pendiri Assyabaab.

Kali ini, edisi 13, penulis masih mengupas tentang perjalanan Aly Bahalwan, yang memang memiliki ketrampilan dan aktifitas yang beragam. Perjalanan Aly Bahalwan dalam menggeluti sepak bola dan sisi lainnya yang masih ada kaitannya dengan sepak bola, akan penulis uraikan pada kesempatan kali ini.                       

                 Buku “My Assyabaab”                         

Penulis sangat terbantu dengan adanya buku “My Assyabaab” karangan Fuad Alkatiri, dan ditambah dengan hasil investigasi penulis dengan para pihak termasuk cerita abang penulis, Aly Bahalwan. Terimakasih semuanya.                       
                              Fuad Alkatiri, Penulis Buku “My Assyabaab”.                         

Jama’ah yang tinggal di sekitar Masjid Ampel, ingin memiliki wadah untuk menyalurkan bakat dan hobinya dalam bidang olah raga, utamanya sepak bola, sehingga tersalurkan bakatnya, disamping tetap mendalami agama sebagai kewajiban utama bagi setiap muslim.

An Naser, menjadi nama yang disepakati sebagai nama perhimpunan olah raga bagi para jama’ah. Sebenarnya yang difasilitasi beragam cabang olah raga, namun kenyataannya yang tetap eksis dan banyak penggemarnya adalah sepak bola. Arti An naser adalah kemenangan. Pendiri An Naser diantaranya, Mohammad Balahmar, (yang juga kakek dari Fuad Alkatiri, penulis buku “My ASSYABAAB“), Salim Barmen (ayah Mohammad Barmen), Moh Bin said Martak, dan lain-lain. Ketika masa pendudukan Jepang di Indonesia tahun 1942, nama An Naser diganti dengan Al Faouz yang artinya juga kemenangan. Jadi dalam setiap permainan olah raga apapun termasuk sepak bola, maka tujuan utamanya adalah meraih kemenangan. Akan tetapi kemenangan yang dimaksud disini adalah kemenangan yang diperoleh dengan sportifitas dan kejujuran. Tidak dengan menghalalkan segala macam cara. Harapan lebih jauh adalah kemenangan yang mampu mengangkat harkat dan martabat pemain itu sendiri, keluarga, klub tempat pemain bernaung, kota tempat klub itu berada dan bahkan menjadi kebanggaan bangsa dan negara. Disamping itu baik An Naser maupun Al Faouz, bukan semata-mata bertujuan untuk melahirkan pemain bola berkualitas, lebih dari itu juga sebagai media dakwah, amar makmur nahi mungkar. Uniknya klub dahulu dan sekarang adalah, zaman dahulu pemain juga merangkap sebagai pengurus termasuk di An Naser dan Al Faouz.

Segi positifnya adalah pemain lebih punya tanggungjawab untuk bermain semaksimal mungkin guna meraih kemenangan, agar klubnya  tetap eksis dan diperhitungkan oleh lawan. Beberapa pengurus dan pemain An Naser adalah : Zein Bin Agil, Aly Bahalwan, Muchhtar, Ahmad Yamani, Mohammad Bajuber, Usman Ali Al-Habsyi, Moh. Balhmar, Saleh Baroyis Attamimi, Ali Assyblie, Abdullah Alamudi, dan lain-lain. Ahmad Yamani adalah abahnya Yahya Yamani Jakarta dan Amang Yamani atau mertua dari Douglas Baa’dilla Melbourn-Australia dan kecintaannya menurun pada anaknya Amang Yamani yang ternyata pernah menjadi pengurus ASGS (Assyabaab Salim Group Surabaya). Setelah Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945, maka klub lebih bergairah lagi. Latihan dapat berjalan dengan lancar termasuk pertandingan-pertandingan baik persahabatan maupun kejuaraan.   
                       

 
Ahmad Yamani (lingkaran hijau) dan Aly Bahalwan (lingkaran merah).                       
 
Dalam perjalanan berikutnya nama Al Faouz, terhitung mulai tanggal 16 Juni 1948 diganti dengan nama “ASSYABAAB“.

Assyabaab berasal dari Bahasa Arab yaitu “SYABAAB“, yang artinya pemuda. Pernah satu ketika, cak Neri, teman sekampung Aly Bahalwan di Nyamplungan yang juga mengelola klub sepak bola PS. Harimau, karena nama Al faouz tidak lagi dipakai untuk nama klub sepak bola, maka cak Neri ingin mengambilnya dan menjadikan nama Al Faouz sebagai pengganti nama PS. Harimau. Keinginan tersebut disampaikan kepada Aly Bahalwan. Dan jawaban Aly Bahalwan adalah, “Nama klub PS. Harimau tidak perlu diganti dengan Al Faouz, nanti nyamai Assyabaab saja. Biarkan namanya tetap PS. Harimau, kan lebih keren, gagah, berwibawa dan disegani oleh lawan“. Demikian kata Aly Bahalwan.

Assyabaab didirikan oleh Zein Bin Agil, Aly Bahalwan (ayah Rusdy Bahalwan), Mochtar, Ali Salim. Dan pada periode I ini, Zein Bin Agil diangkat menjadi ketua Assyabaab periode 1948 – 1951 dan bertindak sebagai sekretaris adalah Ibrahim Bobsaid (Captain Arab). Sekretaris Assyabaab saat itu adalah di Jl. Ketapang Besar 28 Surabaya, yang tidak lain adalah rumah Zein Bin Agil sendiri (untuk memudahkan koordinasi).



Aly Bahalwan (lingkaran hijau, no. 6)               
                        
Tempat latihan Assyabaab berpindah-pindah. Karena memang Assyabaab tidak mempunyai lapangan sendiri, semuanya sistem sewa. Untuk pertama kali Assyabaab latihan di lapangan Sawah Pulo, sekitar 1 km sebelah utara Ampel. Lapangan Sawah Pulo atau juga disebut dengan lapangan Dwi Kora, boleh dibilang lapangan legendaris. Karena hampir semua pemain Tim Nasional PSSI era 1970-an pernah berlatih di lapangan Sawah Pulo. Diantaranya adalah, Jacob Sihasale, Sutjipto Suntoro, Iswadi Idris, Roni Pattinasarany, Abdul Kadir Kancil termasuk Rusdy Bahalwan, dan lain-lain.

Dan sekarang ini lapangan Sawah Pulo sudah beralih fungsi menjadi gedung SMP Negeri 11 Surabaya. Setelah itu Assyabaab pindah latihan ke lapangan Colombo (Perak), kemudian lapangan Pasiran Ujung dan sekarang Assyabaab berlatih di lapangan Bumi Moro, komplek AAL (Akademi Angkatan Laut) surabaya. Walaupun tempat latihannya berpindah-pindah, tetapi pemain tetap semangat berlatih guna memberikan yang terbaik untuk marwah klub.

Keterlibatan Aly Bahalwan di Assyabaab lebih dalam lagi, setelah diangkat sebagai ketua Assyabaab periode II antara tahun 1951 – 1954. Salah satu kontribusi Aly Bahalwan yang fundamental adalah dengan diciptakannya LOGO ASSYABAAB untuk pertama kali dan sudah tercatat dalam AD/ART Assyabaab. Logo Assyabaab terdiri atas tiga gambar, yaitu :
1. Gambar orang (pemuda) meloncat melakukan heading (menyundul bola).
2. Gambar Bulan Bintang serta warna hijau bergaris-garis putih.
3. Kalimat Surabaya.                       


Logo Assyabaab dibuat oleh Aly Bahalwan                         

Secara umum menurut hemat penulis, arti logo Assyabaab adalah “Sebuah klub sepak bola yang selalu menatap masa depan dengan penuh optimis, pantang menyerah, dan selalu berinovasi untuk melahirkan pemain-pemain berkualitas, berkarakter serta berperilaku baik. Disamping itu Assyabaab adalah klub yang didirikan di wilayah religius yaitu kawasan Ampel yang muslim. Namun demikian Assyabaab TIDAK ALERGI terhadap pemain non muslim. Salah satu buktinya adalah Jacob sihasale, Wayan Diana, Yongki Kastanya dan bahkan Jacksen Tiago yang asli brazil pernah menjadi pelatih Assyabaab. Dan klub Assyabaab berhome base di kota Pahlawan Surabaya”.



Aly Bahalwan (no. 2, lingkaran hijau)                         

Berkat latihan rutin yang dijalani, maka tahun 1960-an  Aly Bahalwan terpilih untuk pertama kali memperkuat Persebaya bersama dengan Ahmad Barajak, Amak Guk Aljufri, Amak Bazrewan, Achmad Bajardana, Abdullah Aljufri, Ali Bahbel, Moch Bin Mahfud, Saad Bin Thalib, Said Bagor, Kadir Mahdami, Ali Basofi, Bakar Basofi, Abdullah Basofi, dan lain-lain.
Satu kebanggaan tersendiri terpilih dalam skuad Persebaya. Aly Bahalwan dan tentunya juga pemain lainnya akan memanfaatkan sebaik-baiknya kepercayaan pelatih dengan menampilkan penampilan terbaik untuk Persebaya.    


BAGIAN KEDUA



Aly Bahalwan (lingkaran merah)                        

Tahun 1964, Assyabaab mendapat guncangan internal yang luar biasa. Karena ada sekelompok pengurus yang ingin mengganti nama ASSYABAAB dengan nama lain yaitu PUTRA INDONESIA. Mereka yang ingin mengganti nama, diantaranya adalah Dr. Thalib Bobsaid, Dr. Djarot, Moch. Bin Machfud, Umar Al Idrus, Gozaly dll. Sedang yang tidak setuju adalah Mohammad Barmen, Zein Bin Agil, Aboe Ramli, Abdullah Ghoromah, termasuk juga Aly Bahalwan. Alasan nama Assyabaab diganti adalah, karena berbau etnis (Arab), tetapi kubu Mohammad Barmen tetap bersikukuh dan mempertahankan nama Assyabaab. Sebab ada kesebelasan lain yang bernama Al Badar, Hizbul Wathon, Al Hilal, (kan juga berbau etnis) tapi tidak dipermasalahkan. Dan akhirnya melalui Menteri Olah raga saat itu, MALADI, mengatakan bahwa nama Assyabaab tetap dipertahankan dan bahkan Maladi salut atas militansi Mohammad Barmen dalam mengelolah klub dan mempertahankan nama Assyabaab yang sudah melegenda dan termasuk klub tua di Indonesia dan sudah banyak melahirkan pemain nasional.



Sekitar tahun 1965, ada keinginan agar logo Assyabaab dapat dijadikan BEDGE, sehingga bisa dipasang di dada kaos pemain. Untuk masalah badge ini, Mohammad Attuwy dalam sebuah kesempatan pernah dipanggil oleh Aly Bahalwan melalui Muhammad Barmen untuk menghadap.



Waktu itu Mohammad Attuwy kaget, ada apa moh, kok dipanggil sama Aly Bahalwan ? Kata Muhammad Barmen sudah datang saja ke Aly Bahalwan, saya juga tidak tahu persoalannya. Dan setelah menghadap, Aly Bahalwan mengkonfirmasi tentang rencana menjadikan logo Assyabaab menjadi bedge. “ Dan Mohammad Attuwy menjelaskan panjang lebar, termasuk ada rumput dalam bedge tersebut. Mengapa ? karena di Bangil-Pasuruan, ada klub Assyabaab itu bukan perkumpulan sepak bola, melainkan karambol. Nah untuk membedakan, maka ditambahkanlah rumput dalam badge assyabaab “. Demikian yang pernah diceritakan mohammad Attuwy kepada penulis. Dan memang Mohammad Attuwy diberi kepercayaan untuk membuat bedge, karena merupakan pemain senior yang berposisi sebagai kiri luar sekaligus pengurus Assyabaab periode 1965 -  1977. Agar tidak keliru dan  bertentangan dengan logo yang telah dibuat oleh Aly Bahalwan, maka dalam pembuatannya Mohammad Attuwy selalu berkonsultasi dengan Mohammad Barmen.             





                                          
Pembuatan bedge memerlukan waktu sekitar 1 bulan. Mohammad Attuwy seangkatan dengan Rusdy Bahalwan. Pada tahun 1967, ia bersama Rusdy Bahalwan dan Moch. Hambasyi dari Assyabaab terpilih memperkuat Persebaya Junior dalam Turnamen Suratin Cup. Ketika itu Persebaya Jr. Mampu menembus final, namun sayang di final kalah dengan Persid Jember dengan skor 2-1 untuk Persid Jember.




Dan seiring dengan perkembangan politik dan ketatanegaraan negara RI, bahwa setiap organisasi harus berazazkan Pancasila, maka oleh Mohammad Barmen ditambahkanlah bingkai segi lima yang melambangkan bahwa Assyabaab berlandaskan pada lima sila dalam Pancasila. Seragam kebesaran assyabaab didominasi warna hijau. Itu menunjukkan bahwa setiap gerak langkah Assyabaab selalu berlandaskan pada nilai-nilai keislaman,diantaranya adalah kejujuran,  tetapi tetap semangat pantang menyerah sebagai arek-arek Suroboyo dalam setiap pertandingan. Kita junjung sportifitas dan kejujuran untuk kejayaan sepak bola Surabaya dan Indonesia.                       

 
Himyar Bahalwan (lingkaran merah), Rusdy Bahalwan (lingkaran hijau), dan Muhammad Attuwy (lingkaran kuning)                       


Rusdy Bahalwan dan abahnya (Aly Bahalwan) (lingkaran merah)                       

Selain Aly Bahalwan yang menjadi pemain Assyabaab, anak dari Aly Bahalwan yang bernama Himyar Bahalwan juga mengikuti jejak  Abahnya bermain sepak bola. Sama-sama bergabung di tim Assyabaab. Memang prestasi Himyar di Assyabaab tidak sebaik abahnya apalagi adiknya (Rusdy Bahalwan, akan dibahas tersendiri). Namun dinasti Bahalwan sangat mewarnai perjalanan klub Assyabaab.

Prestasi Assyabaab pada periode ini belum menonjol, masih kalah dengan klub lain yang sering juara pada saat itu yaitu, HBS dan Tionghoa. Persoalannya bukan karena permainan assyabaab yang jelek, tetapi skill lawan yang memang istimewa. Namun demikian itu menjadi pelajaran buat pemain. Menurut Aly Bahalwan, salah satu kelemahan mendasar pemain Assyabaab adalah cepat down, ketika melihat nama besar pemain lawan. Seperti ketika Assyabaab bermain dengan Tiong Hoa. Assyabaab kalah 3 – 0. Itu semua hanya karena kehadiran Januar Pribadi (Phwa Sian Liong) , pemain Tiong Hoa yang baru pulang dari pemusatan latihan (TC) di PSSI Jakarta. Tampilnya Januar Pribadi membuat nyali pemain Assyabaab kecil. Padahal saat itu Assyabaab juga mempunyai pemain handal, diantaranya adalah Alwi BSA (Alwi Banteng), Husin Bin Agil, Amang Jabli dan Saleh Mahri. Dan karena itu maka ketrampilan yang dimiliki hilang tak berbekas. Boleh dikatakan pemain sudah kalah sebelum bertanding (kalah sebelum perang).




Untuk itu salah satu solusinya adalah memperkuat mental dan menanamkan kesadaran bahwa kita bisa dan bahkan lebih bisa mengalahkan mereka. Disamping itu kita harus memperbayak pertandingan terutama main di luar kandang (main tandang). Agar teruji nyali dan mental pemain. Aly Bahalwan yakin dengan kebersamaan,kekompakan antara pemain,pengurus serta dukungan masyarakat yang luar biasa menjadi modal tersendiri bagi prestasi Assyabaab. Assyabab juara hanya tinggal tunggu waktu. Kita pasti bisa.                       

 Rusdy Bahalwan (lingkaran merah)                       

Himyar Bahalwan (lingkaran merah) dan Rusdy Bahalwan (lingkaran kuning)   
     


               
Assyabaab merupakan klub sepakbola legendaris di Indonesia, sehingga sering mendapat undangan untuk berpartisipasi dalam berbagai even. Salah satunya adalah mengikuti turnamen yang diadakan oleh Perseba Banjarmasin tahun 1974. Turnamen tersebut diikuti oleh beberapa klub. Tujuan diadakannya turnamen tersebut adalah untuk penggalangan dana guna pembangunan stadion di Banjarmasin. Ketika pertandingan antara Assyabaab melawan Perseba Banjarmasin, scor kemenangan mencolok diperoleh oleh Assyabaab. Ridwan Mas dari Banjarmasin bertindak sebagai wasit yang kebetulan aktif  dinas di Kopassus Banjarmasin. Mohammad Attuwy, salah seorang pemain yang ikut dalam turnamen tersebut mengatakan bahwa, turnamen ini penting untuk mengasah insting bermain bola juga berguna meningkatkan kerjasama tim. Demikian kata Mohammad Attuwy yang berposisi sebagi kiri luar. Tampak dalam gambar : Mohammad Attuwy, berdiri no.3 dari kiri ke kanan bersebelahan dengan Yacob Sihasale. Tampak juga Ahmad Attamimi, salah seorang official Assyabaab, berdiri no.2 dari kanan ke kiri, dekat Abdul Kadir dan Rusdy Bahalwan. Sumber dan informasi dari dokumen pribadi Mohammad Attuwy.


Berikut penulis sampaikan periodesasi ketua umum klub Assyabaab Surabaya dari berdiri sampai sekarang.
1.    Zein Bin Agil (1948 – 1951)   
2.    Aly bahalwan (1951 – 1954)
3.    Idrus Albar (1954 – 1956)
4.    Mustopa Machdami     (1956 – 1959)
5.    Saleh Attamimi (1959 – 1961)
6.    Umar Idrus (1961 – 1962)
7.    Cholid Nabhan     (1962 – 1964)
8.    Aly Alkatiri (1964 – 1966)
9.    Mohammad Barmen (1966 – sekarang)

Dari periodesasi tersebut dapat dikatakan bahwa Assyabaab tidak dapat dipisahkan dengan etnis Arab. Namun dalam kenyataannya Assyabaab didirikan bukan khusus untuk etnis tertentu (Arab), akan tetapi semua etnis boleh masuk dan bergabung dengan Assyabaab untuk bersama-sama berlatih dan bermain menjadi pemain berkualitas.

Kenyataannya di Assyabaab, hampir semua etnis ada. Nyoman Slamet Witarsa, Wayan Diana (Bali), Yongki Kastanya (Ambon), Jacob Sihasale (Maluku), Subodro (Jawa), Imam Hidayat (Madura), Andi Slamet (Cina), dll. Jadi klub Assyabaab benar-benar klub yang lahir di Surabaya dan mengabdi untuk Indonesia yang berbhineka tunggal ika dan sepakat mengibarkan panji-panji Merah Putih. Semoga dari uraian di atas, membuka mata hati semua insan, bahwa lewat sepak bola dapat kita rajut persatuan,persaudaraan dan kerjasama. Kita hilangkan perbedaan,ego pribadi untuk panji-panji olah raga yang mendahulukan jiwa sportivitas dan nilai-nilai kejujuran. Insya-Allah edisi berikutnya akan dipaparkan peran Aly Bahalwan dalam bidang dakwah Islamiyyah.

6 komentar:

  1. Innalillahi wa'innailahi rojiunn.. telah berpulang kerahmatullah dengan tenang Bapak Fuad Alkatiri pada hari Rabu tanggal 8 Agustus 2018.
    Saya Dan keluarga mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya, semoga Amal dan ibadahnya dapat diterima disisi-NYA. Untuk keluarga yang ditinggalkan dapat diberi ketabahan. (PT.SURYAJAYA TEKNOTAMA)

    BalasHapus
    Balasan
    1. innalillahi wainailaihi rojiun, inshallah husnul khotimah,

      Hapus
    2. Aamiin... Husnul Khotimah InsyaaAllah...

      Hapus
    3. Foto inisial nn&no6dibali Junaedy Abdillah kmdian pindah psad Surabaya th 74 April Hijriyah ke Persija Jakarta jacub Sihasale menolak & hrs keluar dari Pertamina demi assyabaab persebaya:dan cintanya pd surabaya

      Hapus
  2. Ayah saya (imam hidajat/cicak) nomer 17 di foto, baru meninggal dunia 9 juni 2019 lalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Innalillahi wa innailaihi roojiun. Turut berduka cita atas meninggalnya bapak Imam Hidayat/cicak, semoga Husnul Khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan kesabaran, Aamiin.

      Hapus