Sabtu, 11 Februari 2023

TORIQ BAYASUT SANG VOODER AL IRSYAD SURABAYA TEMPO DOELOE (BAGIAN KEDUA)

Kenangan Tim Bola Voli Unair di Mataram tahun 1979 pada saat Turnamen Bola Voli Perguruan Tinggi Se-Indonesia Timur. Unair Juara I.
Dari kiri ke kanan : Atim, Hardono (FE), Syamsuri (FK), Toriq Bayasut (Narasumber - FH), Idrus (FK), Harimas (FH), Nizar Yamani (FK), Ridhoi (FKH), Made (FE), Yunus Yamani (pelatih/coach), Rudy (FE), dan Dillah Baadillah (pemain Al Irsyad/pinjaman)

Seperti disampaikan pada bagian pertama, Toriq Bayasut merupakan salah satu pemain Bola Voli Al Irsyad tempo doeloe yang sangat membanggakan, disamping pemain lainnya (Amang Yamani dan Hasan Jawwas).

Toriq Bayasut, sangat beruntung, karena dapat menyelesaikan pendidikannya mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi. Sehingga hal itu berpengaruh terhadap kehidupannya. Adapun Riwayat pendidikannya adalah : SD Al Irsyad Surabaya, SMPN 7 Surabaya, SMAN 2 Surabaya dan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya.

Setelah menamatkan Pendidikan tingkat SMP, Toriq melanjutkan Pendidikan ke SMAN 2 Surabaya. Di SMA tersebut, ikut kegiatan ekstrakurikuler olahraga, khususnya cabang Bola Voli. Kebetulan banyak anak anak dari club Al Irsyad yang juga melanjutkan ke SMAN 2, sehingga seperti reunian kembali. Tim Bola Voli SMAN 2 Surabaya terdiri atas : Toriq Bayasut, Noval Yamani, Yunus Mahri, Thalib Faraj Bin Thalib dan ditambah anak lainnya. Akan tetapi tetap anak-anak jebolan club Al Irsyad Surabaya menjadi pemain kunci di tim Bola Voli SMAN 2 Surabaya. Pada saat itu hampir sering juara ketika diadakan pertandingan antar SMA di Surabaya. Maklum, skill anak-anak Al Irsyad memang di atas rata-rata.

Selepas SMA, Toriq Bayasut melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya. Bakat dan kecintaannya pada olahraga Bola Voli berlanjut terus sampai kuliah. Ketika ada pertandingan antar perguruan tinggi, tim Bola Voli Tim Unair beranggotakan : Toriq Bayasut, Bashir Kalia, Yunus Yamani, Farid Yamani, Nizar dari fakultas Kedokteran dan lainnya. “Alhamdulillah kita juara. Tim Bola Voli Unair dan ITS merupakan rival (saingan), saling mengalahkan. Setiap kali bertanding selalu seru dan penuh penontonnya”, demikian kenang Toriq Bayasut.

Sambil berseloroh, penulis bertanya, “Ketika melawan ITS, mana yang lebih banyak menang ?” Toriq menjawab, “Unair. Tetapi, kadangkala ITS yang menang. Memang dua tim tersebut (Unair dan ITS) dihuni oleh pemain-pemain berkualitas. Jadi bergantung pada mentalnya. Siapa yang mentalnya bagus, maka peluang menang jauh lebih besar.

Tahun 1979 diadakan pertandingan antar PTN dan PTS se-Jawa Timur dan tim Bola Voli Unair keluar sebagai Juara I yang berlanjut ikut pertandingan mewakili Indonesia Bagian Timur. Adapun tim Jawa Timur diwakili oleh Unair, Sulawesi Selatan (Makasar) dan beberapa perguruan tinggi di wilayah Indonesia Timur lainnya. Bertindak sebagai tuan rumah adalah kota Mataram (NTB).

“Alhamdulillah dalam Turnamen Bola Voli antar Perguruan Tinggi se Indonesia Timur ini, Tim Unair keluar sebagai Juara I. Adapun pemain Bola Voli Unair saat itu adalah : Atim, Hardono (FE), Syamsuri (FK), Saya (Toriq Bayasut) (FH), Idrus (FK), Harimas (FH), Nizar Yamani (FK), Ridhoi (FKH), Made (FE), Yunus Yamani (pelatih/coach), Rudy (FE), dan Dillah Baadillah (pemain Al Irsyad/pinjaman). Walaupun Yunus Yamani sudah lulus, akan tetapi sebagai wujud kecintaannya kepada almamater, maka dia (Yunus Yamani) ditunjuk menjadi pelatih / coach. Karena Juara I, maka perkumpulan Bola Voli di Mataram meminta kita untuk bertanding dengan tim-tim pilihan (kuat) di Mataram, salah satunya adalah tim milik Pemda Mataram. Alhamdulillah lagi-lagi kita Juara I. Mungkin kita bertanya, tidak akan lahir pemain hebat, tanpa didukung oleh pelatih hebat dan berintegritas. Lalu, bagaimana dengan club Al Irsyad yang mengagumkan itu ? Siapa pelatih yang berhasil mengukir prestasi ? Ternyata club Bola Voli Al Irsyad Surabaya tidak ada pelatih,” demikian jawaban Toriq Bayasut yang juga dibenarkan oleh Moestofa Bazargan. Yang juga sering menjadi wasit.

Lebih lanjut dikatakan oleh Toriq, “Kita hanya diajari sama Amang Yamani dan Hasan Jawwas. Kebanyakan otodidak. Mereka berdua (Amang Yamani dan Hasan Jawwas) hanya mengajari bagaimana menjadi vooder yang baik. Karena kunci permainan Bola Voli ada di tangan vooder. Bagaimana kemampuan dia (vooder) dalam melayani smaser sekaligus pengatur ritme pertandingan. Bagaimana tehnik dasar membagi bola yang baik yaitu bola tidak muter, sehingga menyulitkan smaser. Umpan bola ke depan, samping dan tengah serta bagaimana tehnik mengecoh lawan. Itu semua adalah bekal yang harus dimiliki oleh seorang vooder.”

Menurut Toriq Bayasut vooder yang bagus adalah bisa mengumpan bola dengan tenang, bola tidak berputar untuk memudahkan smaser. Selain itu seorang vooder harus mengetahui dan keinginan smaser (fariasi smaser). Ada smaser yang senang dengan bola tinggi, senang bola sedang dan ada pula yang senang bola yang ada dibibir net.

“Contohnya Totok, walaupun orangnya pendek, namun smas yang dilakukan sering mematikan lawan. Totok selalu minta kepada vooder bola yang mendekati net, sehingga dengan mudah disambar untuk menjadi point. Ibaratnya seorang vooder melayani sesuai pesanan. Lebih dari itu tugas vooder adalah berat karena harus paham bola harus diumpan kepada siapa. Jadi harus cerdik dalam membaca pola permainan. Bahkan dalam sebuah pertandingan, selaku Vooder, saya sampai menjatuhkan diri dalam mengumpan. Kadangkala sudah memberi umpan, masih tetap disalahkan oleh smaser,” kenang Toriq sambil ketawa mengenang masa lalu.

Toriq juga menjelaskan, “Untuk lebih mengasah tehnik pertandingan dan mental bertanding, maka club Al Irsyad, disamping melakukan pertandingan tandang juga kendang. Sering kita mengadakan pertandingan segitiga atau lainnya, dengan Al Irsyad sebagai penyelenggara. Sebagai penanggung jawab club Bola Voli Al Irsyad tempo doeloe adalah Ghozi Basymeleh. Totalitasnya luar biasa dan saya (Toriq) bersama pemain lainnya salut atas kepedulian dan pengorbanannya.”

Lebih lanjut Amang Yamani mengatakan, “Salah satu faktor pendukung yang membuat pemain bola voli Al Irsyad Surabaya tampil membaggakan adalah karena skill yang di atas rata-rata dan juga adanya fanatisme yang tinggi pada club. Sehingga mereka merasa memiliki dan berusaha memberikan yang terbaik untuk clubnya dalam setiap pertandingan yang dijalaninya. Tentunya itu semua tidak lepas dari izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Dari sini dapat disimpulkan bahwasanya keterbatasan (tidak ada pelatih) bukan alasan untuk tampil jelek. Justru dengan kekompakan dan kerja keras, keterbatasan dapat dikelola untuk menghasilkan prestasi yang membanggakan. Selamat membaca dan ikuti edisi berikutnya.

Ditulis oleh : Washil Bahalwan

Narasumber : Toriq Bayasyut, Amang Yamani dan Moestofa Bazargan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar