Rabu, 14 Desember 2022

PRAMUKA & KESELAMATAN ANAK SEKOLAH (BAGIAN XXXIV)

(Sambungan)

Kenangan setelah Jambore di Bumimoro Surabaya Gudep 77 Pramuka Al-Irsyad Surabaya, keluar sebagai Juara I, April 1974
Lokasi : Perguruan Al-Irsyad Surabaya
Dari kiri ke kanan : Aufa Bahalwan, Jasmadi, Samsul Munir, Machmud Makarim (Narasumber – tanda panah merah), Hasan Ali Albugis
Barisan belakang (berdiri dari kiri ke kanan) : Helmi Syamlan (pegang vandel), Saleh Basymeleh, Geys Bin Muchsin Alchotib, dan Fauzi Bin Mahfud

Jambore di Bumimoro Surabaya tahun 1974 meninggalkan kenangan tersendiri bagi Machmud Makarim. Hal ini dikarenakan Machmud Makarim bersama Jasmadi lolos seleksi yang dilakukan oleh kakak pembina, Abdul Aziz Allan. “Untuk mengikuti Jambore Bumimoro ini, melalui proses yang sangat ketat dan saya (Machmud Makarim) umurnya yang paling kecil diantara peserta seleksi Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya”, kenang Machmud Makarim. Beberapa syarat yang harus dipenuhi diantaranya adalah SKU dan keterampilan lainnya harus memenuhi syarat yang telah ditentukan, dan Alhamdulillah, Machmud, demikian biasa dipanggil, hafal materi-materi yang ada dalam SKU.

Pada pelaksanaan Jambore Bumimoro, diikuti oleh beberapa regu se-Kotamadya Surabaya, termasuk Gudep 77 Pramuka Al-Irsyad Surabaya. Dari beberapa lomba yang diadakan, antara lain : pengetahuan tentang pramuka, kecakapan dan ketangkasan, sketsa dan lainnya. Dan berdasarkan penilaian dewan juri, Gudep 77 Pramuka Al-Irsyad Surabaya ditetapkan sebagai Juara I. Hal ini dikarenakan persiapan yang matang dan keterampilan yang sudah teruji. Untuk itu kepada seluruh anggota regu Gudep 77 Pramuka Al-Irsyad Surabaya mendapatkan Piagam sebagai Juara I yang ditandatangani oleh Ketua Kwartir Cabang Kotamadya Surabaya, Letkol S. Soeratman. Penulis salut, karena Piagam Jambore Bumimoro yang berlangsung 1974, berarti 48 tahun yang lalu, masih tersimpan dengan rapi oleh Machmud Makarim. Karena menjadi Juara I, maka Gudep 77 Pramuka Al-Irsyad Surabaya mendapat reward / penghargaan dari Kwarcab Surabaya untuk ikut serta dalam Pawai HUT Pramuka tanggal 14 Agustus 1974 di Monas Jakarta dan Machmud Makarim menjadi salah satu peserta pawai HUT Pramuka tersebut.

Inilah salah satu Piagam Penghargaan dari Kwarcab Surabaya, atas prestasi Gudep 77 sebagai Juara I Jambore Bumimoro tahun 1974

Kemudian tahun 1975, Machmud Makarim ikut perkemahan yang kedua di Polaman, Kabupaten Malang (Perkemahan I di Polaman Kabupaten Malang berlangsung tahun 1971). Masih menurut Machmud, kita mendirikan dua tenda dan acaranya seperti umumnya perkemahan yaitu Jurit Malam, Slepen, Penjelajahan dan lain-lain. Peserta yang ikut perkemahan kedua di Polaman Kabupaten Malang adalah : Machmud Makarim, Amin Basymeleh, Abdul Aziz Hamedan, Ismail Baktir, Mohammad Fad’aq, dan kawan-kawan. Seperti umumnya, tujuan perkemahan ini adalah untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan serta ketangkasan selama latihan. Disamping itu juga melatih kerjasama, tanggungjawab dan kemandirian. Alhamdulillah perkemahan tersebut berjalan dengan lancar.

Ketika usia SMA, Pramuka Penggalang, tahun 1976, Machmud Makarim ikut perkemahan dengan membawa regu yang secara otomatis menjadi tanggungjawabnya ke Songgoriti, Kabupaten Malang untuk ambil BADGE KELANA, dengan peserta : Machmud Makarim, Amin Basymeleh, Abdul Aziz Hamedan, Ismail Baktir, Mohammad Fad’aq, Tamyis dan kawan-kawan.

“Kita datang di perkemahan sekitar jam 4 sore, lalu mendirikan tenda. Alhamdulillah, Maghrib sudah selesai. Tiba-tiba, kakak pembina, Abdul Aziz Allan datang habis Isya’ dan setelah makan malam memberikan pengarahan. Intinya waspadalah, nanti malam akan ada sesuatu. Setelah itu, kakak pembina pergi entah kemana,” tutur Machmud Makarim.

Mendengar hal itu, Machmud Makarim langsung melakukan langkah-langkah, diantaranya adalah mengatur petugas piket secara bergiliran, setiap tiga jam ada pergantian piket. Setelah diamati oleh Machmud Makarim, ternyata tidak ada apa-apa, aman-aman saja. Tiba-tiba jam dua belas malam, dikejutkan dengan datangnya kakak pembina, Abdul Aziz Allan, langsung semua anggota disuruh renang di kolam renang sebagai uji mental dan ketangkasan. Karena udara yang dingin, sampai-sampai Tamyis kakinya kram dan tidak dapat digerakkan. Melihat hal itu, Machmud Makarim menyampaikan kepada kakak pembina tentang kakinya Tamyis yang kram. “Lho saya gak tahu, kan kamu ketua regunya sekaligus penanggungjawabnya”, demikian jawaban kakak pembina dengan enteng setelah mendapatkan laporan dari Machmud Makarim. Karena ketakutan dan agar tidak terjadi apa-apa, maka Machmud Makarim membawanya ke rumah sakit terdekat. Dan setelah diperiksa dokter, ternyata tidak membahayakan, hanya kram saja, mungkin karena kurang pemanasan. Tamyis ketakutan dan minta pulang saja, karena ingat ibunya, antara menggerutu dan rasa tanggungjawab. “Waduh, njaluk moleh.” Akhirnya jam tiga pagi diantarlah Tamyis pulang ke rumahnya di Kalimas Hilir Surabaya naik angkot. Selepas itu, Machmud Makarim langsung kembali ke Songgoriti.

Setelah tiga hari di perkemahan, kakak pembina, Abdul Aziz Allan datang lagi ke tenda dan semua anggota regu dikumpulkan. Berdasarkan pengamatan dari pembina dan beberapa ujian yang dilaksanakan, semuanya berjalan dengan baik. Maka kita semua dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan BADGE KELANA. “Merupakan kebanggaan tersendiri mendapatkan Badge Kelana”, kata Machmud Makarim.

Sebelum mengakhiri berbagi cerita, penulis bertanya kepada Machmud Makarim, “Kesan apa yang diperoleh saat aktif di kegiatan pramuka ?” Machmud pun menjawab, “Ternyata apa yang kita pelajari di pramuka, manfaatnya sangat banyak untuk kehidupan.” Sambung Machmud, kenangan menarik yang sulit dilupakan adalah :

• Kehidupan sehari-hari merupakan aplikasi dari pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari di pramuka.

• Kemandirian, tidak bergantung pada orang lain serta keberanian memutuskan sendiri setiap kondisi yang dihadapi, baik keadaan longgar maupun kepepet telah ditanamkan dalam pramuka.

• Kita juga diajarkan tentang berbagai macam daun dan kotoran hewan. Kita diedukasi tentang daun, apalagi pramuka sering kemah di hutan. Akhirnya kita menjadi faham daun mana yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Termasuk edukasi tentang kotoran hewan. Ini memberikan kewaspadaan, ketika di sekitar perkemahan ada kotoran binatang buas, misalnya. Maka kita harus hati-hati dan waspada.

• Karena kita sekolah di Al-Irsyad, maka selain bekal pengetahuan dan keterampilan, kita juga ditanamkan bekal agama dan akhlak, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Termasuk ikut kajian di Aula Al-Irsyad yang diasuh oleh : Ustadz Cholid Abri, Ustadz Muhammad Mukhoddam dan Ustadz Awad Ubaid, sehabis Sholat Maghrib.


Perguruan Al Irsyad Surabaya Tempo Doeloe. Suasana depan Aula Al-Irsyad. Di depan Aula inilah dulu selalu ada kegiatan pramuka hari Ahad pagi. Setelah Sholat Maghrib, di Aula ini ada kajian yang diasuh oleh Ustadz Kholid Abri, Ustadz Muhammad Mukhoddam dan Ustadz Awad Ubaid

Di akhir perbincangan, penulis bertanya, “Apa harapan untuk generasi muda ?” Kemudian Machmud Makarim mengatakan ingin agar pramuka diaktifkan kembali di sekolah-sekolah termasuk Al-Irsyad. “Kita dahulu latihan setiap hari Ahad mulai jam 7 – 9 pagi dan hasilnya sangat terasa sekali, utamanya dalam kehidupan bermasyarakat.”

Berikut penulis sampaikan biografi Narasumber (Machmud Makarim) sebagai berikut : SD dan SMP di Al-Irsyad Surabaya, SMA Negeri 6 Surabaya dan kuliah di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) Jurusan Cinematografi. Tahun 1980 Machmud Makarim sudah tidak aktif lagi di pramuka, tetapi fokus di Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya.

Demikian bincang santai dengan narasumber. Banyak pelajaran yang dapat dipelajari. Diantaranya adalah berlatih sungguh-sungguh dalam hal apapun sangat menentukan hasil akhirnya. Sikap kerjasama dan waspada terhadap situasi dan kondisi mutlak diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga kita dapat mengambil inspirasi dari perjalanan cerita di atas, guna bekal menapak kehidupan mendatang. Aamiin.

Ditulis oleh : Washil Bahalwan

Narasumber : Machmud Makarim

Sabtu, 10 Desember 2022

PRAMUKA & KESELAMATAN ANAK SEKOLAH (BAGIAN XXXIII)

Kakak Pembina, Abdul Aziz Allan (tengah) dan Farid Bahalwan (pojok, duduk kanan) di tengah-tengah anak didiknya. Machmud Makarim (Narasumber – baris depan)
Lokasi : Stasiun Lawang, tahun 1971

Ternyata masih ada cerita dan kiprah Pramuka Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya lainnya yang perlu diinformasikan ke khalayak ramai, disamping cerita pramuka pada edisi sebelumnya. Alhamdulillah, penulis bersilaturrahim dengan Machmud Makarim, salah satu pelaku pramuka Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya, untuk berbagi cerita seputar peran pramuka sebatas yang Machmud Makarim tau dan ikuti. Selasa, 29 November 2022.

Berikut ini adalah informasi selengkapnya dari sudut pandang Machmud Makarim. Machmud Makarim, pertama kali aktif di pramuka adalah ketika masih usia SD kelas 5. Dan waktu itu masih masuk kelompok Siaga. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Machmud Makarim, langsung ikut kemah di bumi perkemahan Polaman-Lawang, Kabupaten Malang, yang berlangsung tanggal 31 Agustus s/d 4 September 1971 bersama kakak pembina, Abdul Aziz Allan dan Farid Bahalwan.

Perjalanan dimulai dari Stasiun Semut menuju Stasiun Lawang. Kemudian dari Stasiun Lawang berjalan kaki ke Polaman. “Kami memilih mendirikan tenda di atas perbukitan dan di bawah tenda ada kolam dan di seberangnya ada warung yang berjualan makanan. Namun kami oleh pembina dilarang untuk membeli makanan/jajan. Dan untuk memastikan itu (larangan tidak boleh jajan), selaku kakak pembina, Abdul Aziz Allan mengawasi langsung. Peserta kemah dari Pramuka Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya adalah : Saya (Machmud Makarim), Abdul Aziz Hamedan, Ismail Baktir, Jasmadi, Bambang Mulyanto dan kawan-kawan”, kenang Machmud Makarim.

Machmud Makarim juga menambahkan, “Ada cerita menarik, ketika kita kemah di Polaman Lawang yang ada aturan tidak boleh membeli jajan, tiba-tiba orang tua Farhad Baisa datang dan membawa roti dalam jumlah banyak. Akhirnya kita makan rame-rame dan anak-anak bilang ke Farhad, bilango ke umikmu, sering-sering datang dan membawa roti ke perkemahan. Melihat hal itu, kakak pembina, Abdul Aziz Allan yang semula melarang, tidak bisa berkutik melihat pemandangan itu (makan rame-rame). Termasuk kak Amin Basyaeb yang sudah masak, akhirnya nasinya tidak laku, membuat Amin Basyaeb kecewa. Kakak senior yang ikut adalah : Geys Bin Muchsin Alchotib, Farhad Baisa, Aufa Bahalwan, Amin Basyaeb, Saleh Basymeleh, Fauzi Bin Mahfud, Ahmad (Bambang) Bahadiq dan kawan-kawan. Berhubung kita masih SD, umur siaga, maka acaranya hanya nyanyi-nyanyi saja. Tidak berat, belum ada pendakian.”

Selain itu, masih menurut Machmud Makarim, dia (Machmud Makarim), Jasmadi, Bambang Mulyanto, Wajdi Alamudi dan kawan-kawan ikut Persami di sekolah Al-Irsyad, Jl. Danakarya No. 46 Surabaya sekitar tahun 1973. Acara yang menarik, penuh tantangan sekaligus cermat dalam memanfaatkan waktu. Bentuk acaranya adalah Jurit Malam. Jalan kaki dari perkemahan di Al-Irsyad Surabaya menuju pemakaman Pegirian Surabaya. Dengan memakai lampu lentera. Oleh kakak pembina, minyak yang diisikan di lampu lentera sudah diukur, yaitu sampai di area pemakaman minyaknya habis, yang secara otomatis lampu akan mati. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mencari nasi bungkus yang terlebih dahulu sudah disiapkan oleh senior. Menurut informasinya, nasi bungkus tersebut ada yang diikat di pohon, ada yang di semak-semak, bahkan ada pula yang diletakkan di tempat yang orang tidak mungkin mencarinya. Ini semacam tanda tapak dan ada petunjuk agar kita tidak kehilangan arah. Kesemua tahapan tersebut diberi waktu 30 menit. Dan setelah menemukan nasi, langsung dibawa kembali ke Al-Irsyad serta melaporkan kepada kakak pembina, kemudian makan bersama-sama. Kegiatan ini merupakan kegiatan siaga untuk kenaikan ke penggalang. 


Halaman depan Perguruan Al Irsyad Surabaya Tempo Doeloe

Machmud Makarim menambahkan ceritanya, kenangan yang menarik adalah saat membantu menyeberangkan anak-anak sekolah Al-Irsyad secara bergiliran dengan tetap memakai seragam pramuka. Ada dua pintu yaitu pintu besar (di barat) dan pintu kecil (di timur) di Jalan Danakarya, lalu lintasnya cukup ramai. Anak-anak pramuka bertugas mulai pukul 06.30 pagi dan juga menjelang pulang sekolah. Maklum saat itu belum ada petugas yang menyeberangkan anak-anak sekolah.

Machmud Makarim juga terkenang dengan apa yang disampaikan oleh Ustadz Umar Hubeisy kepada anak-anak, “Kalian jangan nongkrong di jalan. Lebih baik kembali ke Al-Irsyad. Isi kegiatanmu dengan hal yang positif.” Bahkan untuk memberi support, Ustadz Umar Hubeisy sering datang di sore hari guna melihat sekaligus membangkitkan semangat. Kebetulan saat itu di Al-Irsyad Surabaya ada kegiatan Bola Voli, Boxer, Karate, Perpustakaan dan lain-lain. Seperti itulah kegiatan pramuka masa itu, sangat menyenangkan dan mengisi kegiatan-kegiatan yang positif. (Bersambung)

Ditulis oleh : Washil Bahalwan

Narasumber : Machmud Makarim


Machmud Makarim (Narasumber – kiri, baju kotak-kotak) bersama Penulis

Selasa, 06 Desember 2022

BELAJAR DARI PRAMUKA SIAP MENGHADAPI TANTANGAN (BAGIAN XXXII)

Sekolah Al-Irsyad Surabaya Tempo Doeloe
Kegiatan Pramuka di halaman depan Sekolah Al-Irsyad Surabaya
Sebelah kiri nampak Bus ROBUR. Bus inilah yang mengantarkan kegiatan Kepramukaan Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya sekaligus menjadi saksi sejarah dalam dinamika Pramuka Al-Irsyad Surabaya.

NEW JERSY USA. Group WA anggota IKAPAS (Ikatan Alumni Pramuka, Drumband dan Pelajar Al Irsyad Surabaya) sebagai sarana silaturrahim diantara sesama anggota, Alhamdulillah masih eksis, walaupun masih perlu ditingkatkan perannya sebagai bagian dari upaya memberdayakan anggota IKAPAS (Ikatan Alumni Pramuka, Drumband dan Pelajar Al Irsyad Surabaya). Kesempatan kali ini, ada salah satu alumni Gudep 77 Pramuka. Al-Irsyad Surabaya yang tinggal di New Jersy USA, beliau Bernama JAMAL HAYAZA. Ketika menjenguk keluarganya di Surabaya, beliau sempatkan bersilaturrahim dengan penulis, Jum’at, 11 November 2022 untuk bincang-bincang tentang pengalamannya ketika aktif di Pramuka, Drumband dan Bola Voli Al-Irsyad Surabaya. Berikut ini pengalaman – pengalaman yang disampaikan kepada penulis

Jamal Hayaza, aktif di Pramuka, Drumband dan Bola Voli di Al-Irsyad Surabaya sejak tahun 1972. Aktifitasnya di bidang Drumband Al-Irsyad dimulai ketika mendapat undangan dari PT. Petrokimia Gresik dalam acara peresmian PT. Petrokimia Gresik. PT. Petrokimia Gresik diresmikan oleh Presiden RI, Soeharto, 10 Juli 1972. PT. Pertrokimia menempati area lebih dari 450 hektar di Kabupaten Gresik. Karena itu setiap tanggal 10 Juli ditetapkan sebagai hari jadi PT. Petrokimia Grersik. (Sumber : https://Petrokimiagresik.com.page)

Menurut Jamal Hayaza, ketika berangkat ke Gresik, kita naik bus ROBUR yang dikemudikan oleh Abdurrahman (Amang Bahala). Saat itu Jamal pegang Snar Drum dengan Drum Major, Wajdi Alamudi. Kemudian dilanjutkan dengan pawai di Kota Gresik malam hari. Stok Master kita waktu itu pakai lampu yang menggunakan baterai. Karena tampil malam hari, pemandangannya nampak indah dan menarik. Apalagi saat itu kita memakai seragam Pramuka, kelihatan gagah dan berwibawa. Tahun 1979, Jamal Hayaza menjadi pemain Drumband yang tampil dalam Kejurda Jatim di Gelora 10 Nopember Tambak Sari Surabaya, pegang Snar Drum. Jamal mengatakan, “Nasib baik belum berpihak kepada Drumband Pramuka Al-Irsyad, kita kalah. Walaupun mengalami kekalahan dalam momen Kejurda, akan tetapi jajaran pemain, pelatih dan pengurus tidak putus asa. Tetap berlatih serius, koreksi kekurangan dalam Kejurda, sehingga dimasa datang dapat tampil lebih maksimal lagi.”

Selain aktif di Drumband, Jamal Hayaza, juga aktif sebagai anggota Pramuka Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya. Ketika mengikuti Persami di lapangan belakang sekolah Al-Irsyad Surabaya tahun 1972, suasananya menyenangkan dan juga menakutkan. Maklum Pramuka memang begitu.

“Peserta yang ikut Persami dalam acara tersebut adalah : Saya (Jamal Hayaza), Fuad Baswedan, Yunus Martak, Jamal Basymeleh, Farid martak, Machmud Makarim, Wajdi Alamudi, Yunus Baswedan, Gasim Baladraf (sekarang tinggal di Belanda). Ada beberapa acara yang sudah disusun oleh Pembina. Kebetulan Faisal Bin Thalib yang bertindak sebagai komando acara, menyampaikan bahwa acara yang pertama adalah Jurit Malam. Pertama kali peserta dikumpulkan di Aula untuk diberi pengarahan oleh kakak Pembina, Abdul Aziz Allan. Acaranya meliputi tanda tapak, sandi morse dan permainan ketangkasan lainnya. Termasuk juga disampaikan hal-hal yang menyeramkan (pocong, dan lain-lain)”, kenang Jamal Hayaza. Dari pengarahan tersebut, sebagian anak-anak ada yang mengundurkan diri karena ketakutan. Sedang yang menguji adalah para senior (anak-anak penggalang). Diantara pengujinya saat itu adalah : Geys Bin Muchsin Alchotib, Aufa Bahalwan, Saleh Basymeleh, Said Basymeleh, Novel Bobsaid, Oscar Bobsaid, Farhad Baisa, Saugi Allan dan lainnya. Ini adalah acara siaga yang akan naik tingkat ke penggalang.

Masih acara pertama, di lapangan belakang, kita sudah buka tenda dan beregu. Anak-anak start dari Aula menyusuri kelas bagian timur menuju utara, kemudian belok kiri ke arah barat. Di tengah perjalanan sebelah kanan ada keranda dan ada semacam pocong yang tidur di dalam keranda, yang tujuannya adalah untuk menakut-nakuti peserta jurit malam. Nampak di atas pohon tembesi (sayang sekarang sudah ditebang) ada pocong berdiri di pohon dengan suara hantu yang menyeramkan dari kaset yang sudah dipersiapkan. Sebagian anak ada yang pingsan melihat pocong di atas pohon itu. Kemudian lanjut ke barat menuju area pemotongan hewan kurban. Karena suasana gelap, maka peserta jurit malam menyusuri kegiatan tersebut dengan membawa lampu lentera yang bahan bakarnya minyak tanah. Selanjutnya terus berjalan menuju selatan ke arah pintu keluar di belakang kelas. Di ujung pintu keluar itulah ditemukan surat.

“Dan Ketika saya (Jamal) mau mengambil surat, tiba-tiba spontan lenteranya mati. Memang oleh panitia sudah diatur sedemikian rupa yaitu minyaknya diberi sedikit, diperkirakan ketika sampai di tempat ditemukannya surat, lampunya mati, karena minyaknya memang habis. Melihat kejadian itu, si penguji, Geys Bin Muchsin Alchotib dan Farhad Baisa ketawa. Akhirnya berdasarkan penilaian penguji, maka yang dinyatakan lolos dan mendapatkan emblem BADGE GAMBAR KUCING adalah saya (Jamal) dan Fuad Baswedan. Dan perlu diketahui, bahwa selama acara Jurit malam berlangsung, meteran PLN dimatikan. Jadi suasananya betul-betul gelap gulita dan menyeramkan”, kenang Jamal Hayaza.

Setelah acara Jurit Malam selesai, lampu dinyalakan dan dijelaskan, bahwa kegiatan ini hanya permainan belaka. Pocong yang di keranda itu adalah Saugi Allan dan pocong yang di atas pohon adalah Novel Bobsaid.


Perguruan Al-Irsyad Surabaya Tempo Dulu.
Pemandangan Halaman Belakang Perguruan Al-Irsyad Jl. Danakarya No. 46 Surabaya
Di halaman inilah kala itu Pramuka Gudep 77 selalu beraktifitas setiap hari Ahad pagi dan Persami (Perkemahan Sabtu Minggu)

 Pada acara kedua ini, titik beratnya adalah melatih kewaspadaan terhadap barang bawaan di tenda dengan permainan SLEPEN. Ada cerita lucu dan menarik. “Ada kesalahpahaman antara anak Yunior dan Senior. Bermula dari anak senior meniup peluit sebagai tanda berkumpul. Secepat itu anak Yunior mendatangi pembina dan ada satu anak yang masih tinggal di tenda. Dalam waktu yang bersamaan, datanglah anak senior yang ingin mengambil barang-barang milik anak Yunior. Karena menurut mereka (senior) itu tanda mulai slepen. Akhirnya tidak dapat dihindari suasana menjadi kacau. Saling dorong antara Yunior dan senior yang berakibat ada senior yang sampai terjatuh. Akhirnya kita semua mendapat hukuman. Rakse. kok bisa. Kalau ingat kejadian itu, kita kena prank / tipu”, kenang Jamal Hayaza sambil ketawa,

Machmud Makarim, salah satu peserta yunior mengatakan, “Memang anak-anak Yunior emosi, hal ini dikarenakan lapar. Baru pertama kali ikut camping, belum bisa masak nasi, sehingga terbawa emosi.”

Selain Pramuka dan Drumband, ternyata Jamal Hayaza juga pemain bola voli Al-Irsyad Surabaya. Beberapa pemain bola voli yang seangkatan dengan Jamal adalah : Yunus Mahri, Abdillah (Dila Ba’adillah), Fuad Syamlan (akhirnya menjadi Pemain Nasional), Usman Bobsaid, Zainal Abidin, Jamal Attamimi, Said Hayaza, Munif Baya’sut dan beberapa orang lainnya. Untuk mengukur hasil selama latihan, kita melakukan pertandingan persahabatan dengan tim dari Bangkalan, Bondowoso, Besuki, termasuk pertandingan antar club / badan. “Saat itu club bola voli yang terkenal di Surabaya selain Al-Irsyad adalah VIO, karena disitu ada Fauzi Bin Thalib, EAGEL, PERVIK”, kenang Jamal Hayaza. Jamal juga ingin mengikuti jejak AMANG YAMANI dan HASAN JAWWAS untuk menjadi Pemain Nasional Bola Voli. Sebagai informasi, Amang Yamani dan Hasan Jawwas ini pernah menjadi delegasi olahraga Indonesia ke Uni Soviet tahun 1964.

Kala itu Al-Irsyad benar-benar memfasilitasi bakat anak-anak. Hal itu terbukti adanya TROPOKAL untuk menyimpan alat-alat Drumband dan Pramuka. Selain itu ada ruangan untuk menyimpan peralatan voli di Poliklinik Al-Irsyad di ruang samping, Jl. Danakarya No. 46 Surabaya (sekarang Gedung SMP Al-Irsyad putra). Di ruang bola voli itu ada lukisan besar, gambar orang smash bola voli yang indah menunjukkan ruangan bola voli.

Perguruan Al-Irsyad Surabaya Tempo Doeloe. Gedung samping SMP Putra sebelah kanan. Gedung SMP inilah dulu tempat Poliklinik dan Ruang Bola Voli Al-Irsyad Surabaya, Jl. Danakarya No. 46 Surabaya.

Di sela-sela bercerita, penulis bertanya, “Bagaimana sikap orang tua yang anaknya aktif di kegiatan Al-Irsyad Surabaya ?”

Berikut Jamal Hayaza menuturkan, “Sangat mendukung. Jaman dulu, Al-Irsyad sangat menyenangkan dan membuat orang betah untuk bermain di Al-Irsyad. Intinya senang dan bangga. Karena di Al-Irsyad diberikan fasilitas untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Sehingga anak-anak dulu tersalurkan minat dan bakatnya pada hal-hal yang positif. Selain itu juga ada kegiatan bimbingan belajar”. Jamal dulu juga aktif di Pemuda-Pelajar bidang dakwah yang digerakkan oleh Abdillah Juned Bawazeer terutama kegiatan keagamaan, antara lain : Sholat Tarawih, Idul Fitri, Idul Adha. Banyak anak-anak yang aktif di kegiatan Pramuka, Drumband dan Bola Voli diterima di PTN. Alhamdulillah termasuk saya (Jamal). Dulu saya sekolah di SD di Al-Irsyad, SMPN 7, SMAN 2 dan kuliah di UNS Surakarta lulus program S-1 Jurusan Agronomi Pertanian.”

Kebetulan rumah Jamal Hayaza tidak jauh dengan Al-Irsyad yaitu di Jl. Laksda M. Nasir no. 10, Perak - Surabaya (dulu bernama Jl. Tanjung Priok No. 10). Sekarang bertempat tinggal di Perum YKP Rungkut Surabaya.

Setelah lulus kuliah, bekerja di Saudi Arabia dan tahun 2002 bekerja di New Jersy USA sampai sekarang. Mengakhiri perbincangan, penulis bertanya, “Apa kesan dan pesan untuk generasi sekarang ?” Lalu, Jamal menjawab, “Kesannya pokoknya dahulu menyenangkan sekali beraktifitas di Al-Irsyad. Al-Irsyad bagaikan rumah kedua. Pesannya yaitu kembalikan Al-Irsyad seperti jaman dulu lagi. Al-Irsyad menjadi wadah mengembangkan minat dan bakat anak-anak muda. Fasilitasi kegiatan yang positif dan masih banyak kegiatan lainnya”. Itulah bincang santai penulis dengan Jamal Hayaza. Banyak pelajaran yang dapat dipetik, diantaranya adalah lahirnya generasi berkualitas merupakan tugas dan tanggungjawab bersama. Oleh karena itu diperlukan koordinasi dan kerjasama yang intensif diantara semua pihak. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membimbing kita menuju jalan kebaikan. Aamiin.

Ditulis oleh : Washil Bahalwan

Narasumber : Jamal Hayaza


Jamal Hayaza (Kiri, kaos biru tua, Narasumber) bersama Penulis
Surabaya, 11 November 2022

Kamis, 24 November 2022

KENANGAN JAMBORE SIBOLANGIT (BAGIAN XXXI)

(Sambungan)

Peserta Jambore Nasional Sibolangit berasal dari seluruh Indonesia, juga hadir Pramuka dari negara lain, misalnya : Singapura, Thailand, Filipina, Malaysia, Saudi Arabia dan Australia sebagai peninjau. Untuk peserta dari luar negeri memakai seragam pramuka dengan hasduk menurut negaranya masing-masing, termasuk dari Saudi Arabia memakai igal dengan emblem yang membuat kita kagum, karena unik dan menarik. Selain itu untuk saling mengakrabkan diantara peserta, diadakan tukar menukar vandel. Dan Mohammad Bawedon bertukar vandel dengan peserta dari Irian Jaya dan Jawa Barat serta dari daerah lainnya. Untuk keperluan pertukaran vandel, Mohammad Bawedon membawa kurang lebih 15 vandel yang bertuliskan Pramuka Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya. Pantas saja, ketika penulis masih aktif di Pramuka dan Drumband, sempat melihat banyak vandel yang tertata rapi di atas lemari di ruang Tropokal nampak menarik. Bisa jadi, salah satunya adalah vandel hasil pertukaran dengan peserta lain saat Jambore Nasional Sibolangit 1977. Selain itu, Mohammad Bawedon juga berhasil berkenalan dengan peserta dari Saudi Arabia, kemudian diberi air zam-zam.

Penulis bertanya, “Apa yang berkesan selama mengikuti Jambore Nasional Sibolangit ?” MohammadBawedon mengatakan bahwa kesan yang sulit dilupakan adalah ketika melakukan pendakian ke Gunung Sibayak. Dengan beranggotakan 10 orang dari Surabaya (Mohammad Bawedon), Jawa Barat, Irian jaya, Filipina dan lainnya. “Sebelum Subuh, jam 3 pagi sudah berangkat diantar naik perahu, kemudian naik truk, sampai di lereng Gunung Sibayak dilepas. Mulailah pendakian dilakukan dengan penuh optimis serta nyali yang kuat agar bisa sampai ke tujuan. Ketika sudah sampai di puncak, kita disambut dan diberi vandel merah putih oleh panitia sebagai penghargaan dan salut atas capaiannya. Kemudian kita kembali pulang ke perkemahan jam 12 malam keesokan harinya (acara pendakian memakan waktu 1 hari). Sayang sekali, saya gak bawa tustel, sehingga gak punya kenangan,” kenang Mohammad Bawedon, sambil mengingat-ingat peristiwa yang sudah berlangsung 45 tahun yang lalu.

Setelah perkemahan selesai, seluruh peserta diajak panitia wisata ke Danau Toba dengan pulau Samosirnya. “Subhanallah indah sekali pemandangannya. Tugas kita adalah merawat dan memeliharanya.”

(Sumber Foto : https://jamnas11pramuka.or.id/foto-jamnas-ii-tahun-1977/)

Setelah kembali ke Surabaya dan masuk sekolah (SMP Al-Irsyad Surabaya), oleh gurunya yang bernama P. Nuncik, Mohammad Bawedon disuruh bercerita dihadapan teman-temannya tentang Jambore Nasional di Sibolangit.

Terkait pengalaman yang akan disampaikan, penulis bertanya, “Apa kesan dan pesan untuk generasi sekarang dan akan datang ?” Mohammad Bawedon menyampaikan, “Menyenangkan dan banyak pelajaran yang dapat diambil untuk bekal kehidupan mendatang. Pramuka itu mendidik kemandirian, supaya kita tidak cengeng. Jangan sampai ada waktu kosong, harus diisi dengan kegiatan yang positif. Isi waktumu, bila perlu, capek dengan kegiatanmu. Itu pengalaman paling berkesan dan bagus untuk masa depan. Termasuk dengan ikut pramuka akan menambah wawasan dan berpikir kritis.”

Mohammad Bawedon menyarankan kepada para Yunior agar mengikuti kegiatan yang positif apapun, termasuk pramuka. Karena kalau sudah dewasa dan tua, banyak manfaat dan membantu dalam menjalani kehidupan, termasuk bercerita kepada anak maupun cucu. Selain itu, melalui pramuka, kita menjadi pribadi yang mandiri, berjiwa gotong royong, saling membantu dan mengenal karakter masing-masing orang yang beraneka ragam dengan latar belakang yang berbeda. Hal ini memudahkan kita dalam menyelesaikan persoalan dalam bekerja. “Termasuk kemampuan berkomunikasi, berdiskusi dan tidak canggung lagi dalam bernegosiasi dengan mitra kerja, juga dapat diperoleh dengan mengikuti pramuka. Pramuka bukanlah sekedar nyanyi (hiburan) semata, melainkan juga ada pendidikan dan keterampilan yang diajarkan. Intinya menjadi anggota pramuka harus serba bisa dan terampil dalam menyelesaikan sesuatu”, tutur Mohammad Bawedon yang tinggal di Surabaya Utara ini.

Mengakhiri perbincangan, Mohammad Bawedon, menyampaikan banyak terimakasih kepada orang tua. Karena tanpa dukungan dan doa dari orang tua, mustahil dapat lolos untuk mengikuti Jambore Nasional di Sibolangit Deli Serdang Sumatera Utara.

Penulis bertanya lagi, “Bagaimana tanggapan orang tua terhadap kegiatan Jambore ini ?” Mohammad Bawedon menjawab, “Orang tua sangat mendukung, wujud dukungan orang tua adalah dengan memakai seragam pramuka lengkap. Saya berangkat naik kapal di Pelabuhan Perak Surabaya dan diantar oleh ibu yang memberikan bekal uang saku.”

“Alhamdulillah, saya bangga menjadi utusan Gudep 77 Pramuka Al-Irsyad Surabaya dalam Jambore Nasional Sibolangit 1977. Saya dapat mengikuti rangkaian acara sampai tuntas dan mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Untuk itu, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan terimakasih kepada para Pembina Pramuka di Pramuka Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya yang dengan penuh kesabaran dan telaten membimbing dan mengarahkan serta terus memotivasi, sehingga menjadi pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Semoga ilmu yang diberikan bermanfat dan menjadi jariah bagi beliau-beliau.”

“Saya merasakan betul ketika saat ini bergerak di dunia usaha. Dengan tantangan yang komplek serta menghadapi karyawan yang beraneka ragam, diperlukan kermampuan memanage itu semuanya, sehingga menjadi faktor keberhasilan maksimal. Alhamdulillah semuanya itu dapat saya peroleh ketika aktif di pramuka”, kenang Mohammad Bawedon yang penuh optimis ini dalam menghadapi tantangan.

Pada akhirnya penulis menyimpulkan bahwa MasyaAllah Mohammad Bawedon termasuk orang yang berhasil dalam dunia usaha yang bergerak dibidang garmen. Usaha yang telah dirintis 30 tahun yang lalu itu sudah mempekerjakan 30 orang karyawan dengan pemasaran meliputi : Surabaya, Jakarta, Medan, Penang Malaysia dan beberapa pusat perbelanjaan di wilayah Indonesia. 

Dari perbincangan tersebut, menurut hemat penulis, dapat disimpulkan bahwa Alhamdulillah dengan aktif di pramuka, budaya kerja keras, mandiri, pantang menyerah serta sikap lainnya akan terbentuk, yang pada akhirnya kita menjadi pribadi yang tangguh, siap menghadapi tantangan dan terpenting kita dapat memanage organisasi yang didalamnya dibutuhkan kepemimpinan dan keterampilan lainnya. Tentunya sebagai seorang muslim, kita harus selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta berbakti kepadsa orang tua. Karena itulah bekal terbaik dalam menghadapi kehidupan. Dan penulis beruntung, karena langsung dapat bincang santai dengan saksi atau pelaku Jambore Nasional Sibolangit 1977 dari Gudep 77 Pramuka Al-Irsyad Surabaya, Mohammad Bawedon. Sekali lagi terimakasih, semoga menginspirasi kita semua. Aamiin.

Ditulis oleh : Washil Bahalwan

Nara sumber : Mohammad Bawedon

Penulis (kiri, berkacamata) bersama Narasumber, Mohammad Bawedon 



KENANGAN JAMBORE SIBOLANGIT (BAGIAN XXX)

JAMBORE PRAMUKA SIBOLANGIT, merupakan puncak dari kiprah Pramuka Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya tempo doeloe. Seperti disampaikan pada beberapa tulisan terdahulu, bahwa Pramuka Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya tidak hanya berkiprah dalam dunia kepramukaan saja, melainkan juga bidang lainnya, misalnya keagamaan, sosial dan kemanusiaan. Berbagai peran tersebut dilakukan oleh Pramuka Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya sebagai upaya membentuk karakter yang ulet, tangguh, mandiri dan siap menghadapi segala bentuk tantangan kehidupan.

Sebelum membahas tentang kiprah anggota Pramuka Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya dalam Jambore Nasional Sibolangit tahun 1977, terlebih dahulu penulis ingin menginformasikan singkat Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit Deli Serdang.

Setelah diputuskan bahwa Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Utara ditetapkan sebagai penyelenggara Jambore Nasional 1977, maka Gubernur Sumatera Utara langsung turun tangan. Dari berbagai pertimbangan yang ada, akhirnya diputuskan area bekas perkebunan teh di Sibolangit Deli Serdang ini disulap menjadi bumi perkemahan yang layak. Mulailah dibangun sarana prasarana pendukung, yang representatif, sehingga layak dijadikan bumi perkemahan yang siap menyambut peserta Jambore Nasional.

Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit terletak di kaki Gunung Sibayak dengan udara yang sejuk, berada pada ketinggian 864 meter di atas permukaan laut. Lokasi perkemahan berbukit-bukit terdapat banyak sungai kecil yang airnya jernih. Dan setelah dinyatakan selesai pembangunan serta memenuhi standar, tiba gilirannya Bumi Perkemahan Pramuka Sumatera Utara di Sibolangit diresmikan oleh Ketua Kwartir Gerakan Pramuka Nasional, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, 22 Mei 1972.

Demikian informasi singkat tentang Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit. Selanjutnya mari kita ikuti peran anggota Pramuka Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya dalam Jambore Nasional Sibolangit 1977. Untuk membahas hal ini, penulis berkesempatan langsung berbincang santai dengan peserta Jambore Nasional Sibolangit, MOHAMMAD BAWEDON, Kamis, 17 November 2022.

Abdul Aziz Allan, Kakak Pembina Pramuka Gudep 77, di tengah-tengah anak didiknya. Mohammad Bawedon, Narasumber, baris belakang paling kiri

Tentunya bukan hal yang mudah menjadi peserta Jambore Nasional. Pasti melalui tahapan seleksi yang luar biasa dengan kompetisi yang ketat. Berikut ini adalah tahapan seleksinya :

Seleksi pertama dilakukan melalui kegiatan Persami tingkat kelurahan yang dipusatkan di SDN Benteng Miring (sekarang SDN Ujung, belakang Sekolah Pelayaran Hang Tuah Surabaya).

Seleksi tingkat kecamatan berikutnya dipusatkan di SDN Sidotopo Surabaya. Dari seleksi tingkat kecamatan ini, MOHAMMAD BAWEDON dan AYUB ALI AL-BUGIS lolos / terpilih untuk maju seleksi tingkat Kotamadya Surabaya.

Seleksi tingkat Kotamadya, Persami diadakan di Jalan Mayjen Sungkono Surabaya yang waktu itu masih sepi.

“Setiap hari Minggu di kantor Gubernur Jawa Timur, mengikuti rangkaian tes bersama peserta seleksi dari berbagai gugus depan lainnya di Jawa Timur kurang lebih 5 kali pertemuan. Materi tesnya meliputi pengetahuan umum dan keterampilan (Tanda tapak, Morse, Semaphore, dan lain-lain serta berbagai keterampilan sebagai penunjang kecakapan seorang pramuka)”, kenang Amak Bawedon, demikian biasa dipanggil. Dari 120 peserta seleksi tingkat Kotamadya, terpilih sebanyak 20 orang (10 putra dan 10 putri) dan MOHAMMAD BAWEDON dari Pramuka Gudep 77 Al-Irsyad Surabaya sebagai salah satu peserta yang akan mengikuti Jambore Nasional 1977 di Sibolangit, termasuk dari gugus depan lainnya. Sebagai Pembina / penanggungjawab peserta Jambore Nasional Sibolangit Jawa Timur, ditunjuklah P. Maryono yang saat itu berdinas di PLN.

Setelah resmi lolos sebagai peserta Jambore Nasional di Sibolangit tahun 1977, Amak Bawedon mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Packing baju yang akan dibawa, alat-alat yang dibutuhkan termasuk obat-obatan ringan. Begitu waktunya tiba, berangkatlah dari Pelabuhan Perak Surabaya menuju Pelabuhan Belawan Medan naik Kapal laut MEI ABETO selama 4 hari. Dulu kapal laut itu digunakan untuk mengangkut jamaah haji ke Makkah ketika musim haji tiba.

Ada cerita menarik, “Ketika di kapal, waktu mandinya harus sesuai dengan jam yang telah ditentukan. Apabila kita lewat dari jam yang telah ditentukan, maka secara otomatis air showernya mati, akhirnya kita mandi di kolam renang dan untuk makan selama di atas kapal adalah nasi putih dan telor bali, kadangkala ditraktir teman dari gudep lain, beli mie instan biar ada variasi”, demikian kenang Mohammad Bawedon yang juga seorang pebisnis.

Masih kata Amak Bawedon, sesampai di lokasi Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit, Kami dipersilahkan untuk mendirikan tenda dan kerapian pribadi termasuk mempersiapkan acara pembukaan Jambore Nasional.

Jambore Nasional Pramuka berlangsung mulai tanggal 1 – 20 Juli 1977. Dan pada tanggal 3 Juli 1977, Jambore Nasional Pramuka Sibolangit dibuka oleh Ketua Majelis Pembimbing Nasional secara resmi, Soeharto. Dalam salah satu amanatnya, Presiden Soeharto berharap seluruh peserta dan Pramuka dimanapun berada dapat menjadi insan yang bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, mencintai dan menghormati orang lain sesama makhluk Tuhan, cinta tanah air, mengutamakan musyawarah serta gemar menolong orang lain. (Sumber : https://jamnas11pramuka.or.id).

Turut hadir dalam acara pembukaan tersebut adalah Ka Kwarnas, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ibu Tien Soeharto, Sudarmono dan beberapa pejabat negara lainnya dengan memakai pakaian seragam pramuka lengkap.

 Dalam Jambore tersebut, ada banyak kegiatan yang dilakukan, dengan tujuan untuk saling mengakrabkan peserta, juga untuk mengasah keterampilan dan kecakapan. Diantaranya adalah : Perkenalan peserta dari berbagai negara di lapangan dengan menggunakan sarana huruf yang nantinya membentuk kalimat (semacam game), suasananya sangat menyenangkan bagi peserta. Adapun cabang yang dilombakan adalah : renang, semaphore, morse, denah, pita peta, menaksir. Termasuk juga membaca puisi, pengetahuan umum, kecakapan dan keterampilan serta kerohanian (adzan) dan lain-lain.

Demi efektifitas waktu dan kemungkinan besar menang, maka Amak Bawedon memilih lomba-lomba yang penting saja. Untuk lomba kerohanian (adzan) dan lain-lain, Amak Bawedon tidak perlu belajar materi seperti peserta lain, sebab masalah itu sudah lewat. Maklum Amak Bawedon sekolahnya di Al-Irsyad, jadi kegiatan adzan bahkan menjadi imam juga dilatih di sekolah. Alhamdulillah, dari sekian banyak lomba yang diikuti, Amak Bawedon berhasil membawa 7 bintang kecakapan termasuk spanduk pendakian ke Gunung Sibayak. Memang Amak Bawedon cerdik dalam mengoptimalkan waktu. (Bersambung)

Ditulis oleh : Washil Bahalwan

Narasumber : Mohammad Bawedon

Penulis (kiri, berkacamata) bersama Narasumber, Mohammad Bawedon 

Minggu, 20 November 2022

TAMPIL DI ISTANA NEGARA DALAM PARADE SENJA HUT RI 17 AGUSTUS 1986 (BAGIAN XXIX)

Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya tampil dalam acara Parade Senja di Istana Negara dalam rangka HUT RI 17 Agustus 1986 yang langsung dihadiri oleh Presiden Soeharto

“ALHAMDULILLAH KITA JUARA NASIONAL”, itulah kalimat yang terucap dari bibir tim Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya ketika panitia mengumumkan dan ternyata Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya Juara Nasional dengan memenangkan beberapa kategori. Selanjutnya, setelah tampil sebagai Juara Nasional dalam Kejurnas tahun 1986, maka Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya mendapatkan apresiasi dari Pemerintah untuk tampil dalam acara Parade Senja di Istana Negara dalam rangka HUT RI 17 Agustus 1986 yang langsung dihadiri oleh Presiden Soeharto.

Tim Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya setelah acara Parade Senja
17 Agustus 1986 di Istana Negara

Bagi penulis, peristiwa itu (tampil dalam acara Parade Senja di Istana Negara dalam rangka HUT RI 17 Agustus 1986) merupakan prestasi puncak. Karena setelah kejurnas 1986, penulis sudah tidak lagi aktif dalam kegiatan Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya.

Pembina dan Official Drumband Al Irsyad Surabaya
Lokasi : Komplek Istana Negara, Jakarta
17 Agustus 1986

Untuk itu pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

Para Pembina/Pelatih/Senior yang dengan sabar dan telaten membimbing dan mengarahkan kami sehingga kami dapat bermain Drumband dengan baik.

Terkhusus kepada warga Irsyadiyyin, yang dengan tidak mengenal lelah selalu hadir ke tempat kami berlatih. Hal ini merupakan asupan vitamin yang luar biasa, sehingga membuat kami berkomitmen untuk selalu tampil lebih baik.

Secara khusus, penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada anak-anak dari Umar Baridwan yaitu Bapak Asad Baridwan, Ridho Baridwan, Zaky Baridwan, Farid Baridwan dan Salim Baridwan (Baridwan CS) yang begitu banyak memberi dukungan baik dalam bentuk finansial dan akomodasi lainnya, sehingga Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya dapat berlatih, berkompetisi dengan lancar yang pada akhirnya prestasi puncak dapat diraih dengan menjadi Juara Nasional dalam Kejurnas tahun 1986 di Jakarta.

Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya 

Kepada semuanya yang telah berbuat, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi balasan yang setimpal dan yang terpenting bagi penulis adalah segala aktifitas positif dapat terus berlanjut agar senantiasa membentuk karakter orang yang tangguh.

Ditulis oleh : Washil Bahalwan

Sabtu, 19 November 2022

PENGKADERAN & SISTEM PERGANTIAN KETUA DRUMBAND PRAMUKA AL-IRSYAD SURABAYA (BAGIAN XXVIII)

Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya pawai di Balongpanggang, Gresik
Drum Major : Mustofa Basalamah
Saat itu penulis pegang seruling bambu, 1981

Juli 1981 merupakan titik awal penulis aktif dalam kegiatan Pramuka dan Drumband Al-Irsyad Surabaya. Ketika bergabung pertama kali dalam Drumband, penulis pegang alat SERULING BAMBU dan ikut Kejurda Jatim tahun 1982 dan Kejurnas 1982 di Stadion Gelora 10 Nopember Tambak Sari Surabaya.

Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya tampil di Balongpanggang, Gresik

Setelah Kejurnas 1982, penulis dan beberapa kawan, dibimbing langsung (dikader) oleh kak Fauzi Bin Mahfud untuk pegang alat SNAR DRUM, model latihannya adalah memukul stik di lantai di Tropokal, tempat bersejarah bagi perjalanan Drumband Al-Irsyad Surabaya. Seingat penulis ada 8 anak yang dilatih oleh kak Fauzi Bin Mahfud, yaitu : Penulis (Washil Bahalwan), Ahmad Banaimun, Hani Makarim, Husni Bawedhon, Yahya Bahanan. Fauzi Banaimun, Abdul Hakim Balamash dan Ismail Basymeleh. Dan Ketika ikut Kejurnas di Cirebon 1984 sampai dengan Kejurnas 1986 di Jakarta, penulis bersama kawan-kawan pegang alat SNAR DRUM.

Selama aktif menjadi pemain Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya mulai tahun 1981 – 1986, penulis mengalami tiga pergantian kepemimpinan (ketua) Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya yaitu : FAUZI BIN MAHFUD, AHMAD SALIM BASYMELEH dan FAIZ BIN JUBER.

Sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi kepada ketiga ketua Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya, penulis ingin mengangkat kiprah beliau bertiga dalam mendedikasikan dirinya untuk kejayaan Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya. Untuk itu, penulis bertanya langsung kepada salah satu saksi yang terlibat langsung berinteraksi yaitu Moestofa Bazargan yang kebetulan sebagai pelatih legendaris snar drum. Penulis pegang snar drum mulai dari Kejurnas Cirebon 1984, Kejurda Jatim 1985 di Surabaya, Kejurnas 1986 di Jakarta dan puncaknya Ketika tampil dalam acara Penurunan Bendera (Parade Senja) HUT RI, 17 Agustus 1986 di Istana Negara Jakarta.

Dari kiri ke kanan : No. 2 dari kiri Ahmad Syamlan (baju batik), Mustofa Basalamah (Drum Major), Ali Hamada, Fauzi Bamahfud
Lokasi : Lapangan Bumimoro Komplek AAL, Surabaya, Kejurda 1982

Berikut ini penuturan Moestofa Bazargan terkait tiga sosok dan sepak terjang ketua Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya.

Setelah sukses dalam Kejurda Jatim 1982 dan Kejurnas 1982 di Stadion Gelora 10 Nopember Tambak Sari Surabaya, tahun 1983, Fauzi Bin Mahfud diterima menjadi PNS di Departemen Pertanian Banjarmasin. Secara otomatis harus menyerahkan tongkat kepemimpinan Drumband kepada orang lain dan berdasarkan musyawarah, maka terpilihlah Ahmad Salim Basymeleh sebagai ketua . Walaupun terjadi pergantian ketua, Alhamdulillah kegiatan Latihan dan lainnya tetap berjalan seperti biasa, hal ini dikarenakan di Drumband sudah terbentuk sistim dan pola yang baku. 

Ketika mengikuti Kejurnas Drumband 1982 di Surabaya, sedangkan Faiz Bin Juber kala itu bertindak sebagai pembantu official, kemudian selesai mendampingi Kejurnas 1982, Faiz Bin Juber berangkat ke Saudi Arabia untuk bekerja disana.

Fuad Sobban, salah satu personil Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya, pawai dalam Acara Pembukaan Muktamar Al-Irsyad di Semarang tahun 1982

Setelah dipegang Ahmad Salim Basymeleh Drumband Pramuka Al Irsyad surabaya semakin berkembang dan berprestasi. Ahmad Salim Basymeleh adalak sosok ketua yang tegas dan disiplin. Selain tegas dan disiplin, beliau loyalitas terhadap Al- Irsyad. Pengorbanan beliau untuk Drumband Al-Irsyad cukup besar baik materi maupun moril. Ada nilai lebih pada diri Ahmad Salim Basymeleh yaitu perhatian pada personil pemain yang cukup tinggi. Setiap latihan apabila personil belum lengkap, beliau langsung menanyakan dan mencarinya sampai ketemu. Itulah salah satu bentuk kecintaannya kepada anak didiknya.

Pendukung Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya saat Drumband Al-Irsyad Surabaya tampil di Acara Opening Ceremony yang diadakan oleh Universitas Parahyangan, Bandung 1984

Ketika Kejurnas 1984 di Cirebon dan Kejurda 1985 di Surabaya Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya dibawah kepemimpinan Ahmad Salim Basymeleh menunjukkan prestasinya. Terbukti tatkala dalam Kejurda 1985 di Stadion Gelora sepuluh Nopember Tambaksari Surabaya keluar sebagai Juara I.

Setelah Kejurda 1985 ada usulan supaya pengurus membuat rapat anggota dengan tujuan ada penyegaran pengurus. Maka terpilihlah Faiz Bin Jubeir sebagai ketua Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya menggantikan Ahmad Salim Basymeleh yang mana Faiz Bin Jubeir ketika itu baru pulang dari Saudi Arabia.

Dari kiri ke kanan : Ali Bin Syef (Drum Major), Munif Bayasut, Machmud Makarim (personil Drumband)
Lokasi : Cirebon
Persiapan Kejurnas Desember 1984

Dibawah kepemimpinan Faiz Bin Jubeir Drumband Pramuka Al Irsyad Surabaya saat itu sedang mempersiapkan Kejurnas 1986 di Jakarta. Sedangkan Ahmad Salim Basymeleh sebagai pelatih untuk kedisiplinan personil. Dengan persiapan menjelang momen Kejurnas latihan semakin intensif bahkan menambah porsi latihan di lapangan Kodikal Surabaya agar kita terbiasa tampil di lapangan besar.

Dengan persiapan yang matang dan kerja keras semua pengurus dan juga dukungan dari warga Irsyadiyyin baik moril maupun materil serta dengan izin Allah akhirnya Drumband Pramuka Al Irsyad Surabaya berhasil keluar sebagai Juara Nasional. Demikian penuturan Moestofa Bazargan sang pelatih legenda Snar Drum tentang tiga sosok ketua Drumband Pramuka Al Irsyad Surabaya.


Devile Drumband Pramuka Al Irsyad Surabaya dalam Kejurnas di Stadion Madya Senayan Jakarta tahun 1986. Penulis merupakan salah satu anggota dalam barisan tersebut

Diakhir bincang santai, penulis bertanya kepada Moestofa Bazargan, tentang rahasia sukses sehingga keluar sebagai Juara Nasional dalam Kejurnas serta bagaimana pola pengkaderan pemain Drumband ?

Terhadap pertanyaan tersebut, Moestofa Bazargan menjelaskan sebagai berikut :

• Salah satu rahasia suksesnya adalah, seluruh personil Drumband Al-Irsyad adalah MURNI anggota Al-Irsyad, sehingga mempunyai fanatisme dan semangat yang tinggi untuk mensukseskan timnya.

• Terkait dengan model pengkaderan pemain Drumband pada masa itu adalah :

Untuk satu pemain senior snar drum dan sangkakala, berkewajiban mengkader 4 – 5 pemain Yunior. Dengan demikian, 5 pemain senior snar drum dan sangkakala bisa mengkader masing-masing 25 orang pemain yunior. Alhamdulillah kita tidak sampai kekurangan pemain.

Sedang untuk pemain tenor, bas drum dan simbel, sifatnya adalah mengikuti irama yang dimainkan oleh pemain snar drum dan sangkakala.

Khusus untuk pemain belira, ada pelatihan tersendiri dari kakak senior.

Terhadap pemain pemula, semuanya harus pegang seruling. Hal ini dikarenakan untuk mengerti not sebagai basic irama. Setelah menguasainya, bisa lanjut ke alat lain sesuai dengan kecakapannya.

Itulah model pengkaderan yang dilakukan oleh Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya masa itu. Lebih lanjut Moestofa Bazargan mengatakan, dalam segala kegiatan apapun, maka pengkaderan harus menjadi perhatian. Karena banyak suatu organisasi atau kegiatan, lambat laun akan mati, dikarenakan bukan karena tidak ada dana melainkan kurangnya kader.

Ali Bin Syef sedang menerima Tropi Drum Major Terbaik

Selain Moestofa Bazargan, penulis juga menghubungi Aufa Bahalwan (kakak penulis) yang tinggal di Jakarta dimana Aufa saat itu pegang belira. Aufa menambahkan bahwa generasi pertama yang pegang belira adalah Ady Zakin dan Umar Alamudi. Kemudian generasi kedua hanya dua orang, saya (Aufa) dan Oscar Bobsaid.

Kenang Aufa, "Saya dan Oscar diajari not sama kak Ady Zakin seminggu dua kali (semacam kursus) di Poliklinik Jl. Danakarya 46 Surabaya dimana beliau saat itu sebagai petugas relawan di tempat tersebut."  Aufa juga menambahkan, “Jadi nada dasar itu bisa dimulai dari not apa saja dan itu ada rumusnya, ini saya bisa mengerti dari Kak Ady Zakin. Jadi kesimpulannya bahwa untuk memahami not dan memainkan belira itu harus bisa menguasai nada dasar dari berbagai kunci.” Demikian informasi dari Aufa Bahalwan yang telah disampaikan kepada penulis beberapa hari yang lalu.

Untuk mengakhiri perbincangan, penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada para ketua Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya masa itu. Bagaimanapun juga, penulis dapat seperti ini, salah satunya berkat didikan dan arahan dari para ketua Drumband. Terkhusus untuk Moestofa Bazargan, penulis juga menyampaikan terimakasih, karena banyak sekali informasi yang penulis dapatkan dari beliau. Banyak pelajaran yang penulis dapatkan dari para ketua, diantaranya adalah kesungguhan dalam berlatih, dedikasi dan loyalitas tinggi serta kekompakan dalam bekerja, merupakan salah satu kunci sukses dalam mengikuti kegiatan. Kita kesampingkan ego pribadi dan kelompok untuk satunya visi dan misi, demi terwujudnya cita-cita bersama. Semoga kita bijak dalam mengambil pelajaran dari setiap kegiatan. Aamiin.

Ditulis oleh : Washil Bahalwan

Nara sumber : Moestofa Bazargan dan Aufa Bahalwan

Kenangan Drumband Pramuka Al-Irsyad Surabaya saat menunggu giliran latihan gladi resik Parade Senja di Istana Negara, 16 Agustus 1986. Penulis (baris ke-2 dari bawah, mengenakan kaos hijau strip putih) saat menjadi pemain, pegang Snar Drum.
Lokasi : Istana Negara Jakarta